YNLM Fokuskan Program Kesehatan Jiwa Berbasis Komunitas di Medan Timur

GARUDANEWS.co, Medan – Yayasan Nurani Luhur Masyarakat (YNLM) menargetkan Kecamatan Medan Timur sebagai wilayah intervensi utama program kesehatan jiwa berbasis masyarakat untuk periode 2026–2030. Langkah ini dilakukan setelah sebelumnya program serupa dijalankan di wilayah Medan Helvetia.

National Leader YNLM, Jesmon J. Barutu, mengatakan pemilihan Medan Timur didasarkan pada data Dinas Kesehatan Kota Medan yang menunjukkan wilayah tersebut memiliki angka kasus kesehatan jiwa tertinggi kedua setelah Medan Helvetia.

“Awalnya kita mulai di Helvetia. Itu kasus tertinggi pertama di Kota Medan. Setelah diskusi dengan pemerintah, untuk fase berikutnya direkomendasikan Medan Timur sebagai prioritas kedua,” ujar Jesmon, Rabu (17/6/2026).

Ia menyebut program di Medan Helvetia telah berjalan dan kini dilanjutkan oleh Lembaga Peduli Kesehatan Jiwa (LPKJ). Berdasarkan evaluasi internal, terjadi penurunan stigma di masyarakat sekitar lokasi intervensi.

“Dari presentasi sebelum dan sesudah, stigma keluarga dan masyarakat turun sekitar 60–70 persen. Mereka tidak lagi dikucilkan atau dianggap menakutkan,” katanya.

Jesmon menjelaskan, perubahan tersebut dipengaruhi oleh pendekatan edukasi dan pelibatan komunitas, termasuk tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam proses pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Ia menekankan bahwa pendekatan medis saja tidak cukup dalam penanganan kesehatan mental.

“Kalau hanya obat, itu kuratif. Tapi yang utama adalah penerimaan sosial. Mereka harus kembali diterima di lingkungan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti perubahan kondisi ODGJ di Helvetia yang kini mulai beraktivitas kembali di masyarakat, termasuk bekerja sebagai pengemudi becak, produksi sabun, hingga usaha rumahan seperti keripik.

Selain intervensi sosial, YNLM juga bekerja sama dengan Kementerian Sosial melalui Sentra Bahagia dalam pemberian dukungan lanjutan. Program ini didukung oleh proses asesmen berbasis kuantitatif dan kualitatif, termasuk wawancara mendalam serta focus group discussion (FGD) dengan keluarga, tenaga kesehatan, tokoh agama, dan perangkat lingkungan.

Jesmon menilai salah satu temuan penting dari Medan Timur adalah rendahnya literasi masyarakat terkait kesehatan jiwa, meskipun sebagian keluarga memiliki kemampuan ekonomi yang relatif baik.

“Mereka merasa selama ini tidak pernah mendapatkan edukasi. Selama ini hanya datang ke rumah sakit untuk ambil obat, tanpa pemahaman lebih jauh,” katanya.

Ia juga mengungkap masih adanya stigma kuat di awal, di mana ODGJ kerap disembunyikan oleh keluarga karena dianggap memalukan atau berpotensi mengganggu lingkungan.

“Awalnya tertutup, tidak terbuka bahwa ada anggota keluarga dengan gangguan jiwa. Mereka hanya membawa berobat, lalu kembali ke rumah tanpa dukungan sosial,” ujarnya.

YNLM menargetkan penguatan layanan kesehatan jiwa berbasis komunitas melalui integrasi di puskesmas, pelatihan kader, serta peningkatan kapasitas layanan dasar kesehatan jiwa di tingkat pertama. Pendekatan ini diharapkan memperkuat model layanan yang tidak hanya berorientasi pada pengobatan, tetapi juga rehabilitasi sosial dan penerimaan masyarakat.

“Harapannya, ODGJ bisa pulih dan kembali diterima sebagai bagian dari masyarakat,” kata Jesmon.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *