GARUDANEWS.co, Jakarta – Indonesia akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-5 Pakar Khonghucu Tiongkok-ASEAN yang digelar pada 6-10 Oktober 2026 di Jakarta. Forum internasional yang diselenggarakan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) tersebut mengusung tema “Budaya Konfusianisme dan Kehidupan Modern”.
Ketua Umum MATAKIN, Budi Santoso Tanuwibowo, menyampaikan hal itu saat beraudiensi dengan Menteri Agama Nasaruddin Umar di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Kamis (24/9/2026). Dalam kesempatan tersebut, MATAKIN juga mengundang Menteri Agama untuk membuka secara resmi forum internasional itu pada 8 Oktober mendatang.
Menurut Budi, KTT ke-5 ini menjadi kelanjutan dari pertemuan sebelumnya yang berlangsung di Bangkok, Thailand. Tahun ini, Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah dengan fokus pembahasan mengenai implementasi nilai-nilai Konfusianisme dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern.
“Perhelatan ini merupakan KTT ke-V, di mana sebelumnya KTT ke-IV sukses diselenggarakan di Bangkok, Thailand. Tahun ini Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah dengan fokus pembahasan mengenai implementasi budaya Konfusianisme dalam merespons tantangan kehidupan modern,” ujarnya.
Selama lima hari pelaksanaan, para delegasi dan pakar dari berbagai negara akan mengikuti diskusi akademik, forum pertukaran gagasan, serta agenda diplomasi budaya, termasuk kunjungan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Menag Dorong Pembahasan Ekoteologi
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyambut baik penyelenggaraan KTT tersebut dan menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan kebutuhan dunia saat ini dalam memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban.
Secara khusus, Menag meminta agar forum tersebut turut mengangkat isu ekoteologi, yakni pendekatan pelestarian lingkungan yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan. Menurutnya, isu tersebut selaras dengan salah satu program prioritas Kementerian Agama dalam mendorong kesadaran menjaga lingkungan hidup.
Nasaruddin juga mendorong para tokoh dan pakar Khonghucu untuk menyusun buku panduan atau literatur yang mengulas ajaran ekologis dalam perspektif Khonghucu.
“Sangat penting bagi kita untuk mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai keagamaan memberikan landasan moral dalam menjaga alam. Kita berharap dari perhelatan ini lahir gagasan konkret, bahkan sebuah buku panduan ekologi Khonghucu yang dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat luas,” kata Menag.
Ajaran Khonghucu Sarat Nilai Pelestarian Alam
Menanggapi usulan tersebut, Budi Santoso Tanuwibowo menyatakan kesiapan MATAKIN untuk memasukkan pembahasan ekoteologi sebagai salah satu subtema dalam forum internasional tersebut.
Ia menjelaskan bahwa ajaran Khonghucu sesungguhnya telah memuat berbagai prinsip pelestarian lingkungan sejak ribuan tahun lalu. Berbagai aturan terkait pemanfaatan sumber daya alam, pengelolaan hutan, hingga perlakuan terhadap hewan telah diatur secara rinci dalam tradisi Khonghucu.
Menurut Budi, etika lingkungan dalam ajaran Khonghucu mengajarkan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam. Salah satu contohnya adalah aturan dalam memanfaatkan hasil perairan yang menekankan keberlanjutan ekosistem melalui cara penangkapan ikan yang tidak merusak.
“Kearifan-kearifan berbasis ajaran suci tersebut akan kami dokumentasikan dan bahas bersama para pakar internasional dalam KTT mendatang,” ujarnya.
Menutup pertemuan itu, Menteri Agama menegaskan dukungan penuh Kementerian Agama terhadap pelaksanaan KTT Pakar Khonghucu Tiongkok-ASEAN 2026 dan menyatakan komitmennya untuk hadir membuka acara tersebut.
“Kementerian Agama mendukung penuh penyelenggaraan forum internasional ini. Insya Allah saya akan mengupayakan hadir langsung untuk membuka dan menyapa para peserta,” pungkas Nasaruddin Umar.













