17 Pelaku Usaha Terima Rp23 Miliar Kompetisi Akuakultur Berbasis Teknologi Budi Daya Inovatif dan Pendampingan Teknis

GARUDANEWS.co, Jakarta – Sebanyak 17 pelaku usaha dan koperasi sektor perikanan yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia berasil meraih total hadiah senilai Rp 23 miliar melalui Proyek AgResults Indonesia Aquaculture Challenge. Proyek berdurasi lima tahun ini menggelar kompetisi dengan sistem Pay-for-Results yang menyasar pada peningkatan produktivitas pembudidaya skala kecil di 34 provinsi melalui teknologi budi daya inovatif dan pendampingan teknis. Atas pencapaian ini, WWF-Indonesia sebagai pengelola Agresults menggelar acara penutupan kompetisi di Hotel Arya Duta, Jakarta, Kamis, 11 Juni 2026.

Dalam acara ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan, peserta kompetisi dan donor turut hadir dalam menyaksikan sejumlah pembelajaran dan manfaat langsung yang berhasil didapatkan oleh pembudidaya skala kecil melalui AgResults.

Dalam kompetisi ini, Agresults memberikan insentif kepada sejumlah pelaku usaha dan koperasi sektor perikanan berdasarkan keberhasilan mereka mendistribusikan teknologi aerator dan autofeeder kepada pembudidaya ikan dan udang skala kecil di berbagai wilayah Indonesia. Setelah proyek berjalan selama tiga tahun, Agresults membuka kategori baru, yaitu pendampingan teknis. Pembukaan kategori baru ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas pembudidaya dalam mengatasi penyakit dan mengelola kualitas air.

Sejak 2021, AgResults berupaya memberikan solusi atas beragam tantangan yang dihadapi oleh pembudidaya skala kecil, khususnya biaya pakan, pengelolaan kualitas air, serta kualitas hasil budidaya ikan dan udang. Beragam tantangan ini menjadi hambatan utama dalam meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan usaha budi daya, terutama sektor tambak tradisional. Melalui adopsi teknologi dan pendampingan teknis, proyek ini membantu pengelola tambak menjalankan usaha budi daya dengan lebih efisien. Teknologi yang digunakan adalah penggunaan aerator dan autofeeder, sementara pendampingan teknis melalui pemantauan kualitas air serta deteksi penyakit secara berkala. Selain meningkatkan produktivitas, pendekatan itu turut memperkuat keterhubungan antara pembudidaya dan pelaku usaha di sepanjang rantai pasok akuakultur.

Dalam acara puncak, para peserta yang hadir menyaksikan berbagai perubahan positif yang berhasil dicapai selama proyek dijalankan dalam kurun waktu lima tahun. Berbagai hambatan yang selama ini membatasi akses pembudidaya terhadap teknologi dan layanan pendampingan teknis berhasil dikurangi, sehingga membuka peluang yang lebih besar bagi masyarakat tempatan dan kelompok yang sebelumnya kurang terlayani untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan mereka.

“KKP terus mendorong pengembangan perikanan budi daya laut, pesisir, dan darat yang berkelanjutan melalui salah satu strategi utama, yaitu pengembangan komoditas ekspor unggulan melalui revitalisasi dan modeling sistem budi daya serta penguatan komoditas lokal berbasis kearifan lokal melalui kampung perikanan budi daya,” ujar Tb Haeru Rahayu, Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya, Kementrian Kelautan dan Perikanan. “Dalam kerangka Ekonomi Biru menuju Indonesia Emas 2045, peningkatan produksi perikanan budi daya didorong melalui adopsi teknologi seperti pemantauan kualitas air dan pakan yang berkualitas meningkatkan produktivitas akuakultur.”

“Proyek ini telah membantu para pembudidaya skala kecil agar tidak tertinggal seiring berkembangnya sektor akuakultur, memastikan mereka memperoleh akses yang lebih besar terhadap teknologi, pengetahuan, dan kemitraan pasar yang dapat meningkatkan produktivitas serta pendapatan mereka,” ujar Wisruthiy Shankar, Konselor Department of Agriculture, Fisheries and Forestry (DAFF) dari Kedutaan Besar Australia di Jakarta. “Kemajuan pengembangan akan lebih bermakna ketika mampu menciptakan lebih banyak peluang bagi komunitas untuk tumbuh dan berkembang.”

“Kami sangat bergembira setelah melakukan evaluasi AgResults selama proyek ini berjalan dalam kurun waktu lima tahun. Dalam perjalanannya, proyek percontohan ini mampu memberikan perubahan positif dalam adopsi teknologi di kalangan pembudidaya. Kami juga melihat perkembangan yang terus meningkat dalam hal hubungan dan kolaborasi di seluruh sektor akuakultur,” Aditya Bayunanda, CEO WWF-Indonesia menerangkan. “Kompetisi ini mendorong praktik akuakultur yang lebih efisien dan produktif untuk mendukung juga program pemerintah dalam ketahanan pangan. Peningkatan produktivitas pada lahan yang sudah ada menjadi penting agar pembudidaya dapat terus berkembang secara ekonomi tanpa harus membuka lahan baru. Secara lingkungan, upaya intensifikasi tambak ini sangat membantu mengurangi risiko konversi habitat satwa laut dan ekosistem mangrove,” Aditya menerangkan lebih jauh mengenai tujuan besar dari proyek kompetisi ini.

Selama lima tahun berjalan, proyek ini berhasil menjangkau 13 pelaku usaha sebagai peserta yang berkompetisi dalam kategori teknologi, dengan berhasil menyewakan 5.301 unit dan menjual 8.767 unit teknologi, yang memberikan total sebanyak 23 milyar rupiah. Selain itu, selama tiga tahun, terdapat 9 unit usaha dan koperasi sebagai peserta berkompetisi dalam kategori pendampingan teknis, dengan menyalurkan 855 paket bantuan teknis dan menerima total hadiah sebesar hampir satu milyar rupiah. Sepanjang periode ini, para pelaku usaha yang berkompetisi telah melayani total 4.693 pembudidaya skala kecil di Indonesia.

Dalam acara puncak, AgResults memberikan penghargaan kepada CV Republik Vannamei yang berhasil meraih hadiah utama. Unit usaha ini tercatat sebagai pemenang, karena mampu menjual alat aerator dan autofeeder sebanyak 2.963 unit sepanjang periode kompetisi. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi peserta dalam memperluas adopsi teknologi dan mendorong inovasi di sektor akuakultur.

“Program AgResults memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kami, karena inovasi tidak berhenti pada teknologi. Inovasi juga berarti bagaimana kita membangun kepercayaan, menghadirkan pendampingan yang konsisten, dan menciptakan kolaborasi yang berkelanjutan,” Sarah Marsa Tamimi, Deputi Direktur CV Republik Vannamei menjelaskan. “Penghargaan ini bukanlah akhir dari perjalanan kami. Justru prestasi ini menjadi motivasi untuk terus berkembang, mendukung lebih banyak pembudidaya, dan menciptakan dampak yang berkelanjutan bagi sektor akuakultur di Indonesia.”

Parasto Hamidi dari Sekretariat AgResults mengungkapkan, para peserta yang memenangkan penghargaan telah menginvestasikan kembali dana hadiah yang mereka terima untuk berbagai kebutuhan, seperti pendidikan, pengadaan peralatan, promosi melalui media sosial, pengembangan sumber daya manusia, layanan pendampingan bagi pembudidaya, serta pengembangan teknologi berbasis Internet of Things (IoT). “Langkah-langkah tersebut turut mendorong perluasan usaha dan jaringan distribusi mereka,” sebutnya.

Adopsi teknologi AgResults berhasil menjangkau pembudidaya skala kecil yang tersebar di 34 provinsi dan para pihak yang terlibat dalam proyek ini memandang optimis atas keberlanjutan perikanan budi daya di Indonesia. Perkembangan positif sektor akuakultur diperkirakan akan terus berlanjut, didukung oleh komitmen pemerintah, pembudidaya dan mitra sektor swasta untuk memperkuat ekosistem akuakultur yang produktif dan berkelanjutan baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *