GARUDANEWS.co, JAKARTA – PT Pupuk Indonesia (Persero) terus memperkuat hilirisasi untuk membangun ketahanan industri nasional, salah satunya melalui pengembangan pabrik Soda Ash dan Amonium Klorida di Petrokimia Gresik, Jawa Timur. Pengembangan ini juga menjadi langkah penting dalam pemanfaatan emisi karbon untuk menghasilkan produk kimia bernilai tambah.
Saat ini, anak perusahaan Pupuk Indonesia, yaitu PT Petrokimia Gresik dan PT Rekayasa Industri (Rekind) telah menandatangani kontrak Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) untuk Proyek Soda Ash dan Amonium Klorida. Sebagai proyek Soda Ash kedua di lingkungan Pupuk Indonesia Group, pabrik ini akan memperkuat rantai pasok bahan baku industri dan pupuk nasional.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi menegaskan bahwa hilirisasi menjadi jalan untuk memperkuat kemampuan industri dalam negeri. “Melalui hilirisasi, kita memperluas kemampuan Indonesia menghasilkan bahan baku industri, mengurangi ketergantungan impor, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri,” ujar Rahmad.
Pada 2025, Indonesia masih memenuhi seluruh kebutuhan Soda Ash melalui impor sekitar 1,05 juta ton senilai USD225 juta. Dengan kapasitas produksi yang direncanakan mencapai 300.000 ton per tahun, pabrik Soda Ash Petrokimia Gresik berpotensi menggantikan sekitar 29% volume impor tersebut, dengan estimasi penghematan devisa Rp1,4 triliun per tahun.
Selain Soda Ash, proyek ini juga akan menghasilkan Amonium Klorida dengan kapasitas 300.000 ton per tahun yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi pupuk NPK. Pemanfaatan produk tersebut diharapkan memperkuat integrasi rantai pasok industri kimia sekaligus mendukung ketahanan bahan baku pupuk nasional.
Proyek Soda Ash dan Amonium Klorida Petrokimia Gresik merupakan bagian dari agenda industrialisasi Pupuk Indonesia melalui pembangunan dan revitalisasi 8 pabrik dalam 5 tahun ke depan. Sebagai proyek Soda Ash kedua Pupuk Indonesia Group, pengembangan ini memperluas langkah hilirisasi dan diversifikasi produk kimia bernilai tambah untuk memperkuat kapasitas industri nasional.
“Pupuk Indonesia mengemban dua mandat strategis yang saling memperkuat, yaitu menjaga ketahanan pangan dan membangun kedaulatan industri nasional. Kedua mandat ini menjadi arah bagi setiap investasi, inovasi, dan langkah transformasi yang kita jalankan,” ujar Rahmad.
Teknologi Rendah Karbon sebagai Penggerak Daya Saing
Proyek Soda Ash dan Amonium Klorida Petrokimia Gresik dirancang memanfaatkan sekitar 174.000 ton karbon dioksida (CO2) per tahun dari proses produksi pupuk. Pemanfaatan CO2 dalam rantai produksi Soda Ash ini menghubungkan kegiatan produksi pupuk dengan pengembangan produk kimia bernilai tambah, sekaligus menjadi bagian dari arah transformasi hijau Pupuk Indonesia melalui dekarbonisasi bertahap menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.
“Melalui Proyek Soda Ash dan Amonium Klorida ini, kami ingin menunjukkan bahwa inovasi dapat dikembangkan menjadi kemampuan industri, dan bahwa teknologi rendah karbon dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata,” tambah Rahmad.
Petrokimia Gresik juga telah menguji teknologi penangkapan dan pemanfaatan karbon (Carbon Capture and Utilization/CCU) melalui fasilitas pilot plant. Pengujian untuk mengolah CO2 dari proses industri menjadi Soda Ash ini mencatat efisiensi penangkapan CO2 sebesar 91,48% hingga 97,79%, yang menunjukkan potensi efektivitas teknologi CCU dalam pemanfaatan karbon sebagai bahan baku produk kimia bernilai tambah.
“Momentum ini menjadi kesempatan bagi Pupuk Indonesia Group untuk menunjukkan bahwa industri pupuk mampu menjadi penggerak transformasi industri nasional melalui penguatan pasokan bagi pertanian, perluasan hilirisasi, dan pengembangan industri rendah karbon yang berdaya saing,” ujar Rahmad.
Selain di Petrokimia Gresik, Pupuk Indonesia juga tengah membangun pabrik Soda Ash melalui Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) di Bontang, Kalimantan Timur. Kedua proyek tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi gabungan sebesar 600.000 ton Soda Ash per tahun, atau setara dengan sekitar 60% volume impor Soda Ash nasional. Ketika beroperasi penuh, kedua pabrik tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan impor dengan estimasi penghematan devisa sekitar Rp2 triliun per tahun.
