Pupuk Indonesia Siapkan Ammonia Hub di Batam, Dorong Hilirisasi Gas dan Tantang Dominasi Singapura

GARUDANEWS.co, BATAM – PT Pupuk Indonesia (Persero) menjajaki pembangunan Ammonia Hub di Batam sebagai langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah gas alam nasional melalui pengembangan industri petrokimia dan hilirisasi. Inisiatif ini dirancang dengan memanfaatkan potensi pasokan gas dari Natuna dan Grissik, terutama jika kontrak ekspor gas Indonesia ke Singapura berakhir pada 2028.

Langkah tersebut sejalan dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam nasional agar memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi perekonomian Indonesia.

Bacaan Lainnya

Penjajakan pembangunan Ammonia Hub diawali melalui pertemuan konsultasi antara PT Pupuk Indonesia dan Badan Pengusahaan (BP) Batam yang berlangsung di Kantor BP Batam, Senin (2/11). Pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi beserta jajaran, dan Kepala BP Batam Amsakar Achmad bersama timnya.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa perusahaan berupaya menerjemahkan arah kebijakan pemerintah melalui pembangunan industri yang mampu menyerap dan mengolah sumber daya alam di dalam negeri.

“Pak Presiden Prabowo juga menegaskan, sumber daya alam adalah darah kita, yang tentunya harus digunakan untuk mengembangkan perekonomian nasional. Pak Bahlil Lahadalia selaku Menteri ESDM juga menyampaikan bahwa sumber daya gas alam dan yang lainnya diutamakan untuk kebutuhan domestik terlebih dahulu. Pupuk Indonesia merupakan perusahaan yang menggunakan gas alam sebagai bahan baku utama, salah satunya untuk memproduksi ammonia,” ujar Rahmad.

Menurutnya, rencana pembangunan Ammonia Hub juga berangkat dari pembelajaran terhadap keberhasilan Singapura mengembangkan industri pengolahan minyak dan layanan maritim selama lebih dari lima dekade. Keberhasilan tersebut menjadikan Singapura sebagai pusat bunkering terbesar di dunia atau layanan pengisian bahan bakar kapal internasional.

Namun, perubahan tren industri pelayaran global menuju penggunaan bahan bakar rendah karbon membuka peluang baru bagi Indonesia. Dengan cadangan gas alam yang dimiliki, Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk membangun pusat produksi dan distribusi ammonia yang dapat mendukung kebutuhan bahan bakar kapal masa depan.

Peluang tersebut semakin terbuka setelah International Maritime Organization (IMO) melalui IMO Net-Zero Framework mendorong penggunaan berbagai alternatif bahan bakar rendah dan nol emisi, termasuk ammonia, sebagai salah satu sumber energi masa depan bagi sektor maritim global.

Rahmad menjelaskan bahwa Pupuk Indonesia memiliki modal yang kuat untuk mengambil peran strategis dalam ekosistem tersebut. Saat ini, perusahaan memiliki kapasitas produksi ammonia sekitar 7,1 juta ton per tahun, menjadikannya salah satu produsen ammonia terbesar di kawasan Timur Tengah, Afrika Utara (MENA), dan Asia Pasifik.

Berdasarkan potensi tersebut, Pupuk Indonesia menginisiasi pembangunan Ammonia Hub di Batam yang diharapkan mampu mendukung produksi, penyimpanan, distribusi, hingga perdagangan ammonia untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional.

Rahmad menegaskan bahwa langkah ini bukan merupakan bentuk nasionalisme sumber daya (resource nationalism), tetapi lebih kepada industrialisasi sumber daya (resource industrialization) melalui hilirisasi.

“Yang kita inginkan adalah nilai tambahnya berada di dalam negeri. Jadi sekali lagi, ini bukan resource nationalism, melainkan resource industrialization atau hilirisasi,” tegasnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, menyatakan dukungannya terhadap rencana investasi tersebut. Menurutnya, BP Batam siap memberikan berbagai kemudahan, termasuk percepatan proses perizinan dan penyediaan lahan apabila rencana investasi tersebut telah memasuki tahap implementasi.

“Kami akan memberikan percepatan untuk proses-proses selanjutnya, termasuk perizinan dan pengalokasian lahan. Ketika proyek ini masuk tahap ready to invest, BP Batam juga akan membentuk tim bersama dengan Pupuk Indonesia untuk mengawal proses pengembangannya,” kata Fary Djemy.

Saat ini, sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik seperti Australia, Singapura, dan Korea Selatan mulai mempersiapkan infrastruktur serta ekosistem pendukung pemanfaatan ammonia sebagai bahan bakar kapal. Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk mengambil posisi strategis dalam rantai pasok energi maritim rendah karbon melalui pembangunan Ammonia Hub di Batam.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *