World Mental Health Day 2026, dr. Dewi: Deteksi Dini Perlu Diperkuat Melalui Lingkungan Sekolah

GARUDANEWS.co, MEDAN – Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof. Ildrem mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental dengan memberikan ruang bagi penyintas dan individu yang menghadapi persoalan psikologis untuk didengarkan tanpa stigma maupun penghakiman.

Hal ini disampaikan Ketua Panitia Hari Kesehatan Sedunia RSJ Prof Ildrem, dr Dewi sebagaimana yang disuarakannya dalam peringatan World Mental Health Day 2026 di Lapangan Kebun Bunga, Medan, Minggu (11/10/2026).

Bacaan Lainnya

Mengusung tema “Lived Experiences, Heard Real Voices, Real Change”, kegiatan tersebut menekankan bahwa pengalaman hidup penyintas perlu didengar dan dihargai sebagai bagian dari upaya membangun pemahaman serta perubahan nyata dalam penanganan kesehatan jiwa.

Ketua Panitia dari RSJ Prof. Dr. M. Ildrem, dr. Dewi, mengatakan pihaknya saat ini tengah mengintensifkan edukasi kesehatan mental bagi remaja melalui kegiatan di lingkungan sekolah. Salah satunya dilaksanakan di SMA Negeri 13 Medan dengan memberikan pemahaman mengenai tekanan akademik, perundungan atau bullying, serta cara mengenali dan menangani persoalan psikologis sejak dini.

Menurut dr. Dewi, tekanan menghadapi ujian, masalah pergaulan, dan perundungan di sekolah dapat menjadi sumber stres bagi remaja. Karena itu, mereka perlu memahami cara menjaga kesehatan mental, mengenali tanda-tanda awal gangguan psikologis, serta mengetahui kapan dan kepada siapa harus meminta pertolongan.

“Kita berupaya memberikan edukasi kepada remaja tentang bagaimana menjaga kesehatan mental dan mencari pertolongan ketika menghadapi masalah. Kami juga melibatkan psikolog untuk memberikan edukasi psikologis serta dokter spesialis kedokteran jiwa untuk membantu mengenalkan gejala-gejala awal gangguan kesehatan mental,” kata dr. Dewi.

Ia menegaskan, deteksi dini perlu diperkuat melalui lingkungan sekolah dengan meningkatkan kepedulian terhadap perubahan perilaku siswa dan mengoptimalkan upaya kesehatan sekolah. Dengan demikian, persoalan yang dialami anak dapat dikenali lebih awal sehingga mereka memperoleh pendampingan dan penanganan yang sesuai sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih berat.

Untuk tahap awal, edukasi difokuskan kepada siswa SMA dan diharapkan dapat diperluas ke tingkat SMP hingga SD agar pemahaman mengenai kesehatan jiwa terbentuk sejak usia dini.

Selain tekanan akademik dan perundungan, dr. Dewi turut menyoroti paparan konten digital yang tidak sesuai dengan usia anak, termasuk pornografi dan kekerasan, serta penggunaan gawai dan permainan digital yang membutuhkan pendampingan.

Menurutnya, kemudahan akses teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan anak memilih konten yang sehat serta peran orang tua dalam mengawasi aktivitas digital mereka.

“Harapan kita, anak-anak bisa mendapatkan paparan yang positif dan tidak membiarkan konten negatif menutupi hal-hal baik yang bisa mereka pelajari. Karena itu, kita berupaya membantu mereka melalui edukasi, tetapi dukungan keluarga juga sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Dr. Dewi menambahkan, upaya menjaga kesehatan mental anak tidak dapat hanya mengandalkan sekolah dan tenaga kesehatan. Keluarga perlu membangun komunikasi terbuka, memberikan perhatian terhadap perubahan perilaku, serta menciptakan suasana yang membuat anak merasa aman untuk bercerita tanpa takut disalahkan.

Ia juga menilai penanaman nilai agama dan keimanan dapat menjadi bagian dari pendampingan keluarga sesuai dengan keyakinan masing-masing, dengan tetap memberikan akses kepada bantuan profesional ketika anak menghadapi persoalan kesehatan mental.

Melalui peringatan World Mental Health Day 2026, RSJ Prof. Dr. M. Ildrem berharap kepedulian terhadap kesehatan jiwa semakin tumbuh di tengah masyarakat, terutama dalam lingkungan keluarga dan sekolah yang berperan besar dalam mendukung perkembangan psikologis anak dan remaja.

Sementara itu, Ketua Panitia peringatan, dr. Alfi, mengatakan mendengarkan keluhan seseorang tanpa terburu-buru memberikan penilaian dapat membantu memberikan ketenangan bagi mereka yang sedang menghadapi persoalan kesehatan mental.

“Keluhan dari penyintas ataupun siapa pun yang memiliki persoalan harus kita dengar. Selama ini mungkin ada yang kurang mendapatkan perhatian, padahal pengalaman mereka bisa menjadi pembelajaran bagi kita. Bahkan, didengarkan tanpa langsung diberi komentar saja sudah cukup untuk membuat hati lebih tenang,” ujar dr. Alfi.

Ia menjelaskan, peringatan tersebut merupakan puncak rangkaian kegiatan edukasi dan pelayanan kesehatan yang sebelumnya dilaksanakan di sejumlah lokasi dengan melibatkan berbagai pihak. Pada kegiatan di Kebun Bunga, panitia menyelenggarakan senam bersama, pemeriksaan mata gratis, donor darah, skrining kesehatan jiwa, serta pemeriksaan kesehatan dan laboratorium yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan.

Kegiatan tersebut terbuka untuk masyarakat umum dan melibatkan sejumlah institusi kesehatan, termasuk RSJ Prof. Dr. M. Ildrem, Rumah Sakit Adam Malik, serta Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara.

Menurut dr. Alfi, kesadaran masyarakat untuk berkonsultasi mengenai kesehatan mental mulai menunjukkan perubahan, terutama di kalangan generasi muda. Berdasarkan pengamatannya, anak muda kini semakin terbuka mencari bantuan profesional, termasuk berkonsultasi langsung dengan psikiater.

“Sekarang, terutama di kalangan Gen Z, saya melihat mereka sudah tidak terlalu malu untuk berkonsultasi dengan psikiater. Bahkan, ada yang datang sendiri. Padahal, pemeriksaan dan konsultasi seperti ini memang diperlukan ketika seseorang membutuhkan bantuan,” katanya.

Meski demikian, dr. Alfi mengaku belum dapat memastikan angka gangguan kesehatan mental di Sumatera Utara berdasarkan data statistik. Ia menyampaikan bahwa dari pengalaman pelayanan yang diamatinya, kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan mental semakin terlihat sehingga edukasi dan kemudahan akses bantuan perlu terus diperkuat.

Pos terkait