GARUDANEWS.co, MEDAN – Sekitar 740 anak di 26 provinsi disebut telah terpapar ideologi kekerasan, dengan sekitar 300 di antaranya terpapar melalui jaringan.
Angka tersebut disampaikan Direktur Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI, Irjen Pol Wawan Ridwan, saat membuka kegiatan literasi digital berbasis moderasi untuk memperkuat peran guru dalam menangkal paham kekerasan pada siswa di Andaliman Hall, Medan, Selasa (20/10/2026).
Wawan juga mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi yang diperolehnya dari pihak intelijen Densus, jumlah anak yang terpapar diperkirakan telah mencapai lebih dari 4.000 orang, sementara angka yang telah dirilis saat itu baru sekitar 700-an anak. Ia menyampaikan kedua angka tersebut dalam sambutannya untuk menggambarkan besarnya tantangan pencegahan paparan ideologi kekerasan di kalangan generasi muda.
Informasi itu menjadi salah satu sorotan dalam kegiatan yang diselenggarakan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumatera Utara bersama BNPT. Lebih dari 250 peserta mengikuti kegiatan yang berlangsung selama dua hari, hingga Rabu (21/10/2026), dengan melibatkan perwakilan guru sekolah menengah pertama (SMP), madrasah tsanawiyah (MTs), sekolah menengah atas (SMA), madrasah aliyah (MA), serta ustaz dan ustazah dari pondok pesantren di Sumatera Utara.
Menurut Wawan, penyebaran paham ekstremisme berbasis kekerasan tidak hanya berlangsung melalui keterlibatan dalam jaringan, tetapi juga dapat menjangkau anak-anak melalui informasi dan konten yang mereka konsumsi di ruang digital. Ia menyinggung internet dan media sosial sebagai saluran dengan tingkat keterpaparan tinggi berdasarkan penelitian BNPT di Sumatera Utara.
Kemudahan memperoleh dan menyebarkan informasi, menurut dia, memang memberikan manfaat, tetapi juga dimanfaatkan pihak tertentu untuk menyebarkan propaganda, ujaran kebencian, disinformasi, intoleransi, serta ajakan yang mengarah pada radikalisme dan terorisme.
Wawan mengaitkan kerentanan tersebut dengan rendahnya literasi digital. Ia juga menyoroti kondisi sosial dan psikologis yang dapat membuat anak lebih mudah menerima pesan yang menawarkan rasa memiliki, terutama ketika mereka merasa tidak didengar, tidak diterima, atau terasing dari komunitasnya.
“Bapak dan Ibu membentuk karakter, kemudian juga menanamkan nilai kebangsaan dan menjadi teladan,” kata Wawan, menekankan posisi guru dalam menjaga generasi muda dari pengaruh paham kekerasan.
Dalam sambutannya, Wawan menyinggung sejumlah peristiwa yang disebutnya terjadi di SMA 72 Jakarta, Sumatera Barat, dan Kalimantan Barat. Ia menjelaskan bahwa sebagian kasus yang disinggungnya tidak berkaitan langsung dengan keterpaparan melalui jaringan terorisme, tetapi menunjukkan adanya pengaruh ideologi kekerasan, kebencian, dan konten yang ditiru dari lingkungan digital.
Menurut dia, anak-anak dapat menyerap narasi kekerasan dari berbagai sumber di internet, kemudian membawanya ke dalam cara berpikir dan interaksi sosial. Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya dengan memperhatikan keterlibatan anak dalam jaringan tertentu, tetapi juga perlu mencermati lingkungan informasi yang membentuk pandangan mereka.
Wawan menilai guru memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan siswa dalam proses pendidikan. Selain mengajarkan mata pelajaran, guru berperan membentuk karakter, menanamkan nilai kebangsaan, serta menjadi teladan dalam menyikapi perbedaan dan menggunakan media sosial.
Ia menyampaikan tiga pesan kepada para peserta. Pertama, guru perlu menjadi teladan dalam menyaring informasi, bersikap terhadap perbedaan, dan menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Kedua, guru perlu menjadi pendengar yang baik agar siswa memiliki ruang untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi.
Wawan mencontohkan perubahan perilaku seperti anak yang mulai menarik diri, memusuhi teman, atau menyimpan persoalan yang tidak ingin diceritakan sebagai hal yang perlu diperhatikan. Menurut dia, kedekatan dan kepercayaan antara guru dan siswa dapat menjadi benteng awal dalam mengenali kerentanan anak.
Ketiga, guru didorong menjadi produsen pesan positif di ruang digital, bukan hanya penerima informasi. Konten yang disampaikan kepada siswa, kata dia, sebaiknya tidak menakut-nakuti, menghakimi, atau memprovokasi, melainkan membawa nilai perdamaian, toleransi, dan kebinekaan dengan bahasa yang sederhana serta dekat dengan kehidupan mereka.
Kegiatan literasi digital berbasis moderasi tersebut diharapkan memperkuat kemampuan guru dalam mengenali dan menangkal penyebaran paham kekerasan di lingkungan pendidikan. Wawan meminta para peserta aktif berdiskusi, berbagi pengalaman dari kelas masing-masing, dan menghasilkan materi yang dapat digunakan dalam pembelajaran di sekolah.
Ia juga mengharapkan terbentuknya jejaring guru literasi digital di Sumatera Utara melalui sinergi FKPT, dinas pendidikan, Kementerian Agama, satuan pendidikan, dan komunitas guru. Kolaborasi tersebut diharapkan mendukung terciptanya lingkungan digital yang sehat, toleran, dan aman bagi anak-anak.
Ketua FKPT Sumatera Utara, Prof. Arifuddin Muda Harahap, M.Hum., menyampaikan harapan agar keterlibatan para guru dapat membantu meminimalkan kekerasan dan ekstremisme di kalangan siswa. Ia mengajak seluruh peserta menyatukan niat untuk menjaga masa depan generasi muda Sumatera Utara dan Indonesia.
Sementara itu, sambutan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Sumatera Utara yang dibacakan Kepala Bidang Wawasan Kebangsaan dan Penanganan Konflik Kesbangpol Sumut, Emir Mahbob Lubis, S.STP., M.AP., menekankan bahwa literasi digital perlu disertai kemampuan berpikir kritis untuk menyaring, memverifikasi, dan menganalisis informasi sebelum membagikannya.
Sambutan tersebut juga menyoroti pentingnya pembentukan karakter moderat, penghargaan terhadap perbedaan, serta penolakan terhadap kekerasan dan pemaksaan kehendak. Guru diharapkan mampu mengenali perubahan sikap dan perilaku siswa yang dapat mengindikasikan pemikiran ekstrem atau intoleransi.
Anggota Komisi XIII DPR RI, Sugiat Santoso, dalam pemaparannya turut mengingatkan bahwa persaingan informasi dan narasi dapat menjangkau ruang kehidupan sehari-hari, termasuk sekolah, rumah, dan perangkat digital yang digunakan anak-anak. Ia menekankan pembentukan karakter sebagai bagian dari persiapan generasi muda menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.
