Capaian CKG di Medan Masih 4,6 Persen, Dinkes Gencarkan Kolaborasi dan Jemput Bola

GARUDANEWS.co, Medan – Dinas Kesehatan Kota Medan mencatat realisasi program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kota Medan masih mencapai sekitar 4,6 persen dari target tahunan sebesar 46 persen. Rendahnya capaian tersebut dinilai dipengaruhi masih minimnya partisipasi masyarakat serta kendala dalam proses pelaksanaan di lapangan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, Surya, mengatakan seluruh hasil pelayanan CKG wajib diinput ke dalam aplikasi nasional SatuSehat agar dapat dipantau pemerintah pusat.

“Semua pelayanan yang dilakukan petugas harus diinput ke aplikasi. Dari situ capaian daerah bisa terbaca oleh tim pusat,” ujar Surya di dampingi Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Medan, Elsa Dodolang, dr. Shereivia Faradillah, M.K.M Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Jumat (10/7/2026).

Ia menjelaskan, Kota Medan memiliki target tahunan sebesar 46 persen, sementara target per triwulan pertama sekitar 23 persen. Namun hingga saat ini capaian yang telah masuk ke sistem baru berada di kisaran 4,6 persen.

Menurut Surya, Dinas Kesehatan telah melakukan berbagai upaya sosialisasi sejak program diluncurkan. Namun, keberhasilan program tidak bisa hanya mengandalkan Dinas Kesehatan.

“Kita membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, terutama yang memiliki kewilayahan, mulai dari kecamatan, kelurahan hingga lingkungan,” katanya.

Saat ini pelayanan CKG dilaksanakan melalui 41 Puskesmas dan 39 Puskesmas Pembantu (Pustu).

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Medan, Elsa Dodolang, mengatakan rendahnya partisipasi masyarakat dipengaruhi anggapan bahwa CKG sama seperti medical check-up yang memerlukan waktu lama.

Menurutnya, masyarakat harus melalui tahapan wawancara, pengisian formulir, pencatatan riwayat kesehatan hingga edukasi sebelum pemeriksaan dilakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP).

“Kadang masyarakat ingin langsung diperiksa. Padahal ada proses wawancara dan edukasi yang memang menjadi bagian dari SOP. Mungkin ini yang membuat sebagian masyarakat merasa prosesnya lama,” ujarnya.

Elsa menjelaskan sebagian besar pemeriksaan CKG merupakan skrining faktor risiko penyakit, seperti pengukuran tekanan darah, berat badan, lingkar perut, serta pengisian sejumlah pertanyaan mengenai kebiasaan hidup, termasuk riwayat merokok dan faktor risiko penyakit tidak menular.

Menurutnya, skrining dini menjadi penting karena tren penyakit saat ini didominasi penyakit tidak menular seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes melitus, hingga stroke yang membutuhkan biaya pengobatan besar apabila terlambat ditangani.

“Kita ingin menemukan faktor risikonya lebih awal sehingga bisa dikendalikan sebelum menjadi penyakit yang membutuhkan pembiayaan besar,” katanya.

Selain pelayanan di puskesmas, Dinas Kesehatan juga terus menerapkan strategi jemput bola dengan membuka layanan CKG di berbagai kegiatan masyarakat.

Sasaran pelayanan diperluas ke berbagai lokasi, seperti Universitas Sumatera Utara (USU), kegiatan pengajian, gereja, hingga perusahaan-perusahaan agar semakin banyak warga yang dapat mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis.

Elsa mengungkapkan, berdasarkan data internal, capaian yang telah masuk ke aplikasi nasional baru sekitar 4,6 persen. Sementara pelayanan yang telah dilakukan secara offline diperkirakan telah mencapai sekitar 10 persen, dengan sekitar 5.000 hasil pemeriksaan yang masih menunggu proses sinkronisasi ke sistem nasional.

“Kami terus berupaya mempercepat proses input data agar seluruh pelayanan yang sudah dilakukan dapat tercatat dalam sistem nasional,” katanya.

“Kita juga berharap peran serta masyarakat untuk mendukung program nasional ini,” pinta wanita yang akrab disapa Tetha ini.

Pos terkait