GARUDANEWS.co, Jakarta – PT Pupuk Indonesia (Persero) mengoperasikan Command Center sebagai pusat kendali distribusi pupuk nasional yang memungkinkan respons kebutuhan pupuk dilakukan lebih cepat melalui pemantauan distribusi secara real-time dari pabrik hingga ke tangan petani. Sistem ini menjadi bagian dari penguatan digitalisasi distribusi untuk memastikan pupuk tersalurkan lebih cepat dan tepat sasaran.
“Distribusi pupuk adalah bagian penting dalam menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan nasional. Melalui Command Center, Pupuk Indonesia membangun sistem distribusi yang terintegrasi, dari produksi, pemantauan stok, hingga pengawasan penyaluran, agar pupuk diterima petani lebih cepat dan tepat sasaran,” kata Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia Yehezkiel Adiperwira dalam acara PI Insight di Command Center Pupuk Indonesia, Graha Phonska, Jakarta Pusat.
Senior Vice President (SVP) Distribusi Pupuk Indonesia Veronika Trisna Sukmawati mengatakan Command Center menjadi bagian dari transformasi digital perusahaan yang mengintegrasikan berbagai sistem digital distribusi Pupuk Indonesia dalam satu dashboard monitoring. Integrasi pemantauan berbasis Command Center mendukung implementasi Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025, di mana Pupuk Indonesia berperan sebagai penanggung jawab utama penyaluran pupuk hingga ke tingkat Penerima Pupuk pada Titik Serah (PPTS).
“Melalui transformasi digital ini, Pupuk Indonesia membangun rantai pasok pupuk yang lebih efisien, terintegrasi, dan responsif dengan menghubungkan proses distribusi dari hulu hingga hilir,” kata Veronika.
Dalam operasionalnya, Command Center dilengkapi berbagai fitur monitoring yang terhubung di setiap tahapan distribusi. Pada tahap produksi, Command Center mampu memantau tingkat produktivitas seluruh pabrik Pupuk Indonesia Grup. Selanjutnya pada tahap distribusi, fitur pelacakan kapal dan truk berbasis GPS memungkinkan Pupuk Indonesia memantau pergerakan distribusi di lapangan, sekaligus mendeteksi potensi hambatan maupun penyimpangan selama proses pengangkutan berlangsung.
Lebih jauh, sistem Distribution Planning and Control System (DPCS) juga digunakan untuk memantau kondisi stok pupuk di berbagai wilayah menggunakan indikator warna sebagai early warning system untuk mendeteksi potensi kekurangan pasokan lebih dini. Melalui sistem ini, Pupuk Indonesia dapat mengetahui daerah dengan permintaan pupuk yang tinggi dan dapat segera melakukan penyesuaian distribusi, tanpa menunggu laporan manual.
“Ketika terdapat peningkatan kebutuhan di suatu wilayah, kami dapat segera melakukan penyesuaian pasokan pupuk agar distribusi tetap berjalan lancar dan kebutuhan petani selalu terpenuhi,” ujar Veronika.
Dengan pemantauan terintegrasi mulai dari proses produksi hingga distribusi, Pupuk Indonesia mampu menjaga ketersediaan stok pupuk nasional tetap dalam kondisi aman. Hingga 19 Mei 2026, stok pupuk nasional tercatat sebanyak 1,17 juta ton yang terdiri dari berbagai jenis pupuk.
Senior Vice President (SVP) Digitalisasi & Data Science Pupuk Indonesia Yetty Endarwati mengatakan setelah melewati proses distribusi dari pabrik hingga PPTS, aplikasi iPubers menjadi bagian akhir dalam penyaluran pupuk subsidi kepada petani. Melalui iPubers, petani yang berhak cukup membawa KTP untuk melakukan penebusan di PPTS, sehingga proses penyaluran menjadi lebih mudah, tertib, dan tepat sasaran.
Menurut Yetty, iPubers juga terintegrasi dengan Command Center dan menjadi salah satu sumber data utama untuk memantau penyaluran pupuk subsidi secara real-time. Saat ini, rata-rata 2,5 juta transaksi penebusan pupuk subsidi dimonitor setiap bulan melalui integrasi sistem tersebut.
Data yang tercatat melalui iPubers mencakup identitas penerima, jumlah pupuk, waktu transaksi, hingga lokasi penebusan sehingga penyaluran pupuk menjadi lebih tertelusur dan akuntabel. Integrasi tersebut memungkinkan deteksi dini terhadap anomali penebusan maupun potensi penyimpangan distribusi.
“Aplikasi iPubers bukan sekadar tools penebusan, tetapi instrumen penting bagi Pupuk Indonesia untuk menjaga ekosistem distribusi pupuk subsidi secara end-to-end agar lebih transparan dan tepat sasaran,” kata Yetty.
VP Perencanaan Penjualan & Penagihan PSO, Anggy Fajar Maghfiroh mengatakan Pupuk Indonesia juga tetap melakukan pengawasan langsung di lapangan untuk memastikan distribusi pupuk subsidi berjalan sesuai ketentuan. Pengawasan tersebut diperkuat melalui koordinasi dengan Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (KP3), aparat penegak hukum, pemerintah daerah, serta dinas terkait.
“Pengawasan distribusi tidak hanya dilakukan melalui sistem digital, tetapi juga diperkuat melalui koordinasi dan monitoring langsung di lapangan agar penyaluran pupuk subsidi tetap berjalan tertib, tepat sasaran, dan sesuai ketentuan,” kata dia.
Pengawasan yang terintegrasi antara sistem digital dan monitoring langsung di lapangan turut membantu menjaga distribusi pupuk subsidi berjalan lebih lancar dan responsif sesuai kebutuhan petani. Hal tersebut tercermin dari realisasi penebusan pupuk subsidi yang mencapai 3,7 juta ton per 19 Mei 2026 atau sekitar 34% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.







![Foto 1 NORIUM [Ki - Ka] Wulan Wu, Miranti Andi Kasim, Teresa Wibowo dan Tanty](https://garudanews.co/wp-content/uploads/2026/05/Foto-1-NORIUM-Ki-Ka-Wulan-Wu-Miranti-Andi-Kasim-Teresa-Wibowo-dan-Tanty-200x112.jpg)





